Mobil mobil berikut gampang terguling saat zigzag walau jalan di hanya 70kpj, pentingnya stability control

Penulis tergelitik untuk meneliti resiko terguling setelah menonton review motomobi untuk Daihatsu Ayla berikut ini:

Dikatakan dalam review Daihatsu Ayla matik tersebut: “body rollnya parah sekali, terasa seperti gampang kebalik. Kata kata stabil sangat haram diterapkan di mobil ini, karena teknologi suspensinya yang kuno dan tanpa stabilizer. Bobot ringan mobil ini tidak ada pengaruhnya di kestabilan mobil. Kestabilan mobil ditentukan oleh teknologi suspensinya dan titik berat kendaraan”.

Menurut penulis tidak adanya stabilizer pada Ayla/Agya sudah diperhitungkan oleh Toyota/Daihatsu, apalagi karena Ayla termasuk mobil dengan titik berat yang rendah.

Sebagai pemilik, penulis merasakan Daihatsu Ayla tipe M yang penulis miliki termasuk stabil. Untuk rentang kecepatan sampai dengan 120km/h handling masih bisa dikontrol dengan mudah untuk pengendaraan yang tidak ekstrem walau dijalan bergelombang sekalipun. Kestabilan mobil jauh lebih tinggi daripada yang penulis rasakan daripada mobil MPV atau SUV yang pernah penulis kendarai.

Saat topik ini penulis kemukakan di forum dan grup, banyak yang tidak sependapat, bahkan ada yang bilang bahwa mobil seperti Avanza atau Innova lebih stabil. Untuk menyelidiki hal tersebut, maka penulis mencoba mencari referensi. Yang penulis temukan justru mengejutkan, hasilnya sedikit berbeda dari yang diklaim banyak orang termasuk juga motomobi. Resiko terbalik memang ada, namun bukan pada mobil yang bodinya semacam Ayla, terjadinya pada mobil dengan profil tinggi.

Uji terbalik terjadi pada saat melakukan moose test / elk test / tes menghindari hewan yang mendadak masuk ke jalan:

Toyota Hilux , Renault Kangoo , Citroen Nemo , Dacia Duster

Mercedes A class:

Ada juga contoh dimana sistem kontrol yang tidak bekerja membuat kendaraan mudah terbalik, terjadi pada Jeep Cherookee:

Sesudah diperbaiki softwarenya:

Penulis tidak menemukan contoh Daihatsu Ayla, namun penulis menemukan pengujian moose test pada Toyota Aygo, yang spesifikasi dan dimensi hampir sama dengan Daihatsu Ayla. Diperlihatkan bahwa mobil tidak terbalik ataupun terangkat rodanya, namun diperlihatkan bagaimana roda depan luar sempat kehilangan daya cengkram:

di channel youtube dibawah ini memuat video moose test untuk Volkswagen Passat, Ford Mondeo, Renault Twingo, Mini Cooper, Hyundai i20, Citroën C1 dan Peugeot 108.
ALLT OM BILAR

Beberapa hasil moose test kendaraan lain diposting di link berikut:
Teknikens Värld

 

Bila kita melihat video pengujian untuk mobil lain yang tidak terbalik, kita bisa melihat bahwa mobil dengan tinggi atap yang rendah lebih susah terbalik. Hal yang sama juga terjadi pada mobil yang daya cengkram rodanya rendah. Di mobil yang daya cengkram rodanya rendah atau bodinya terlalu berat, saat mobil mulai terangkat, roda depan bagian luar akan kehilangan traksi dan membuat mobil tidak jadi terbalik, namun ini membuat mobil sempat lepas kontrol dan tidak berjalan sesuai harapan.

Kejadian juga sepertinya lebih mudah terjadi pada mobil yang distribusi beratnya terbagi lebih merata depan belakang. Pada mobil dengan distribusi berat mendekati sempurna beban menjadi terbagi merata antara roda depan dan belakang, sehingga menggurangi resiko ban kelebihan beban, daya cengkram ban lebih susah hilang. Namun efeknya ini juga membuat mobil lebih mudah terbalik. Mobil dengan mesin di bawah jok atau mesin depan dengan penggerak roda belakang lebih mudah terbalik.

Mobil yang lebih berat didepan, terutama mobil mesin depan dan penggerak roda depan (front engine front wheel drive) lebih susah terguling karena beban menjadi tertumpu pada satu tumpuan, di roda depan saja saat berbelok, sehingga daya cengkram roda tersebut hilang dan tidak jadi terbalik, namun ban lebih beresiko meletus karena kelebihan beban. Mobil dengan mesin ditengah dan belakang sepertinya juga lebih susah terbalik, namun masih juga berbahaya karena mobil lebih cenderung akan spin.

 

Harus juga diingat bahwa pengujian diatas dilakukan di jalan yang super mulus tanpa gelombang. Di jalan yang super mulus maka suspensi yang keras akan bisa membantu mengurangi resiko terguling. Namun dengan suspensi yang makin keras maka weight transfer akan terjadi lebih ektrem juga, yang efeknya terguling akan terjadi lebih cepat tanpa diawali oleh body roll. Suspensi yang lebih keras membuat weight transfer atau perpindahan berat terjadi lebih cepat. Misalkan kendaraan berbelok mendadak, maka reaksi kendaraan akan cepat pula, efek di handling akan lebih spontan atau cepat, namun kendaraan juga akan bereaksi lebih cepat pula terhadap perubahan kondisi, sehingga pengemudi bisa terlambat bereaksi. Dengan suspensi keras threshold atau limit terguling akan meningkat namun si pengendara akan lebih susah untuk mengetahui tanda tanda mobil akan terguling.

Resiko terguling untuk kendaraan dengan suspensi keras juga justru meningkat di jalan yang tidak rata. Bila suspensi empuk maka daya dorong keatas (saat membentur benjolan di jalan), atau kebawah (saat melewati lubang) akan banyak diserap oleh suspensi. Bila suspensi keras maka dorongan ini akan lebih banyak disalurkan ke bodi mobil yang bisa justru mempertinggi resiko terbalik. Berikut ini contoh mobil dengan atap rendah dan suspensi keras namun gampang terguling karena adanya tonjolan di bagian dalam saat menikung:

 

Hal yang menjadi sorotan di video video diatas adalah fasilitas stability control. Kendaraan yang sudah pakai stability control memiliki kemampuan yang sangat hebat dalam mencegah terbaliknya kendaraan. Itu dijelaskan pada video video berikut:

Mercedes-Benz A-Class / TUV Elk Test Video (1997)

This is a video issued by Mercedes-Benz in 1997 following the famous ‘Elk Test’ performed on the then new A-Class. This video highlights that after the disastrous test, the car would come fitted with ESP as standard and resolve the stability issues. Mercedes-Benz invited a representative of the TUV to test the modified car and demonstrate the issues were resolved!

Citroen Nemo rolls over in Which? tests

Which crash testing has found that small MPvs like the Citroen Nemo can dramatically flip over if you get one without stability control fitted. Read the full report on our website now.

Disebutkan bahwa fasilitas stability control pada mobil dengan mesin dibawah jok atau MPV bisa mencegah mobil terbalik. Sehingga sangat disarankan bagi pengemudi untuk selalu mengaktifkan fasilitas stability control pada kendaraan. Sayangnya kendaraan yang beredar di Indonesia jarang yang pakai stability control.

 

Jadi yang bisa mempengaruhi resiko terguling:

– titik berat mobil, mobil dengan titik berat tinggi akan lebih mudah terguling, mobil dengan atap tinggi akan lebih mudah terguling
– daya cengkram roda untuk gerakan kesamping (lateral grip), ban dengan daya cengkram kesamping yang tinggi akan lebih mudah terguling
– berat mobil, mobil yang saking beratnya mengalahkan daya cengkram roda akan
– suspensi, kaku belum tentu lebih baik, tergantung kondisi kemulusan jalan, lebih kaku bisa mengurangi body roll, mengurangi resiko terguling di jalan mulus, menambah resiko terguling di jalan tidak rata.
– stability control, mobil dengan stability control diprogram agar tidak bisa terbalik. Walau ada pula contoh dimana stability control ini bisa tidak berfungsi normal (bug).

Sehingga kriteria mobil yang mudah terbalik bisa disimpulkan sebagai berikut: tinggi body lebih besar dari lebar bodi, rear wheel drive atau mesin di jok, dan tidak ada fasilitas stability control. Berdasar kriteria tersebut maka mobil – mobil berikut ini punya resiko terbalik (dimensi adalah panjang x lebar x tinggi) :

– Daihatsu Xenia / Toyota Avanza beresiko terbalik dengan dimensi 4200 x 1660 x 1695 (atap tinggi), front engine rear wheel drive (lebih beresiko)
– Daihatsu Terios / Toyota Rush beresiko terbalik dengan dimensi 4385 x 1695 x 1695 (atap sedang), front engine rear wheel drive (lebih beresiko)
– Daihatsu GranMax beresiko terbalik dengan dimensi 4045 x 1665 x 1900 (atap tinggi lebih beresiko), mid engine rear wheel drive (lebih beresiko)
– Daihatsu Luxio beresiko terbalik dengan dimensi 4215 x 1710 x 1915 (atap tinggi lebih beresiko), mid engine rear wheel drive (lebih beresiko)
– Toyota Innova beresiko terbalik dengan dimensi 4735 x 1830 x 1795 (atap rendah), front engine rear wheel drive (lebih beresiko), kecuali versi tertinggi yang sudah pakai VSC
– Toyota Nav1 beresiko terbalik dengan dimensi 4600 x 1695 x 1850 (atap tinggi lebih beresiko), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)
– Toyota Fortuner beresiko terbalik dengan dimensi 4705 x 1840 x 1850 (atap sedang), front engine rear wheel drive (lebih beresiko)
– Suzuki Carry 1.5 beresiko terbalik dengan dimensi 3875 x 1570 x 1915 (atap tinggi lebih beresiko), mid engine rear wheel drive (lebih beresiko)
– Suzuki Ertiga beresiko terbalik dengan dimensi 4265 x 1695 x 1685 (atap sedang), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)
– Suzuki Splash beresiko terbalik dengan dimensi 3715 x 1680 x 1618 (atap sedang), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)
– Suzuki APV beresiko terbalik dengan dimensi 4225 x 1655 x 1855 (atap tinggi lebih beresiko), front engine rear wheel drive (lebih beresiko)
– Suzuki Karimun Wagon R beresiko terbalik dengan dimensi 3600 x 1475 x 1670 (atap tinggi lebih beresiko), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)
– Nissan Serena beresiko terbalik dengan dimensi 4685 x 1695 x 1865 (atap tinggi lebih beresiko), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)
– Nissan Evalia beresiko terbalik dengan dimensi 4400 x 1695 x 1850 (atap tinggi lebih beresiko), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)
– Honda Freed beresiko terbalik dengan dimensi 4215 x 1700 x 1740 (atap tinggi lebih beresiko), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)
– Mazda VX-1 beresiko terbalik dengan dimensi 4265 x 1695 x 1685 (atap sedang), front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko)

 

Walau video diatas menunjukkan Toyota Hilux terbalik, sepertinya untuk versi Indonesia Toyota Hilux sudah dilengkapi VSC, jadi seharusnya tidak mudah terbalik lagi. Mobil lain yang sudah dilengkapi stability control contohnya adalah dynamic control di Nissan March, I-Activsense dan dynamic stability control di Mazda 2, vehicle stability Assist di Honda BR-V.

Sangat disayangkan bahwa untuk pasar Indonesia tidak ada fasilitas stability control di kebanyakan MPV dan city car walau sudah kelas menengah semacam Mazda 8 MPV, Nissan Grand Livina, Honda Mobilio, Honda Freed, Honda Jazz, Toyota Nav1, kebanyakan Toyota Innova ataupun Toyota Yaris. Padahal untuk pasar Eropa, kebanyakan mobil itu sudah dilengkapi fasilitas stability control.

Sementara itu Daihatsu Ayla yang dikritisi oleh motomobi sebagai beresiko terbalik kaerna suspensi yang tidak ada stabilizernya punya dimensi 3600 x 1600 x 1520 (atap rendah lebih tidak beresiko terbalik) dan merupakan front engine front wheel drive (lebih tidak beresiko terbalik). Karena contoh video Toyota Aygo diatas, yang spesifikasinya hampir sama dengan Daihatsu Ayla, tidak terbalik saat pengujian, walau body roll terlihat ekstrem, maka bisa dikatakan bahwa yang dikhawatirkan motomobi tentang terbalik tidak terjadi.

 

Kesimpulannya, untuk mobil yang berbakat terguling maka fasilitas stability control atau ESP (mobil eropa) atau VSC (toyota) atau VSA (Honda)akan sangat membantu mengurangi resiko tersebut. Videonya motomobi yang ngeklaim bahwa body roll parah resiko terguling itu terbukti salah. Yang lebih memnentukan justru stability control. Titik berat rendah, daya cengkram roda lemah dan Mungkin stabilizer bisa akan memperbaiki body roll, namun tidak banyak membantu dalam hal terguling. Yang jauh lebih banyak membantu adalah stability control, yang sayangnya banyak mobil yang dijual di Indonesia yang tidak dilengkapi itu padahal harganya mahal.

Untuk yang ingin mengurangi resiko terbalik, coba dipikir dulu kendaraan akan dipakai di mana. Bila seringnya lewat tol yang super mulus maka memperkeras suspensi atau menambah stabilizer bisa membuat mobil lebih stabil. Namun bila seringnya lewat jalan luar kota yang tidak rata maka suspensi yang terlalu keras jusru membuat mobil sangat tidak stabil yang justru lebih mudal lepas kontrol.

Bagi yang memiliki mobil yang rawan terguling, hindari melakukan zigzag panjang pada kecepatan tinggi. Lebih utamakan mengurangi kecepatan bila ada hambatan. Untuk mobil yang lebih berat di depan, jangan melakukan membelok bersamaan dengan mengerem karena akan terlalu membebani ban depan luar, namun jangan pula main rem tangan bila tidak pernah melakukan. Lebih baik lakukan rem tajam tapi lepas rem saat berbelok, dan tancap gas lakukan dengan bertahap.

Dan ingat, walau suatu mobil termasuk tidak beresiko terguling, kalau sudah jalan cepat maka bisa akan tetap terguling juga, berikut contoh di Toyota Yaris yang terguling saat dibuat zigzag di kecepatan tinggi, yang menarik disitu disebut ESP/ESC (stability control) dimatikan, Yaris di Indonesia dijual tanpa fasilitas stability control:

16 respons untuk ‘Mobil mobil berikut gampang terguling saat zigzag walau jalan di hanya 70kpj, pentingnya stability control

  1. Penulis tidak menemukan contoh Daihatsu Ayla, namun penulis menemukan pengujian moose test pada Toyota Aygo, yang spesifikasi dan dimensi hampir sama dengan Daihatsu Ayla

    ga akan pernah ketemu contoh ini dua mobil laknat ini di review di eropa sono, lolos euro ncap aja ga bakal mungkin kok

    anyway jangan bandingin ama aygo, itu spek eropa, toyota ga mungkin sambil becanda bikin mobil buat spek eropa soalnya beda standard nya jaaauuuhhhhh, aygo itu 1 platform ama peugeot dan citroen

    biarpun sama2 mini city car tapi ride and handling nya udah pasti beda jauh, cara bikin nya aja udah beda jauh, yang satu dibikin sambil becanda yang satu lagi bikin nya niat banget

    bukan masalah stability control juga tapi design 1 mobil juga berpengaruh besar sama kestabilan nya

    bukti nya? mpv tinggi2 macem renault espace jadul apa vw caravelle jadul yang ga pake stability control ga gampang keguling tuh

    Suka

    • Ho oh, kalau sudah faktor keselamatan, mobil yang harganya 4 kali lipatnya Ayla pun kalau yang dijual di Indonesia fasilitas keamanannya masih kurang.

      Soal handling bisa jadi suspensi Aygo dan Ayla beda. Saya pakai perbandingan karena dari segi berat, engine layout, wheel base layout, tinggi / bentuk bodi hampir sama.

      Soal kestabilan, iya, desain juga penting. Lokasi titik berat, jarak antar roda, penempatan mesin, tipe / kekerasan suspensi merupakan bagian dari desain.

      Kalau katanya driver ekspedisi (pengirim mobil baru), Daihatsu Taruna rawan terguling di tol.

      BTW, contoh diatas diperlihatkan mobil Renault Kango yang hampir terguling.

      Suka

  2. Masukan aja sh mas, kalo titik berat mobil itu gak cma dilihat dri tinggi atapnya, tapi lebih dri posisi mesin dan gearbox, yg notabene salah satu komponen terberat dri sebuah mobil, ada loh mobil tinggi atapnya dengan center gravity rendah n gak mdah kebalik, coba browse subaru forester, tinggi atapnya tapi titik beratnya rendah karena engine boxer yg peletakannya bisa rendah juga. Kalo soal agya gampang terbalik sih mnurut saya lbh karena ban yg kecil dan grip yg kurang, tidak hanya dri suspensinya saja, btw 120km/h sih jujur saya gak berani pake agya, prnah nyoba, diatas 100aja sudah gak kerasa gripnya, n bahaya…

    Suka

    • Iya, posisi mesin dan gearbox memang menentukan. Namun kebanyakan mobil SUV mesin dipasang lebih tinggi dari as roda agar ground clearancenya tinggi.

      Untuk Ayla semua beban sepertinya sangat bias ke depan. Peredam suara di atap juga minim.

      Saya rasa bila grip kurang justru lebih susah terbalik. Justru kalau gripnya kuat lebih mudah terbalik. Kalau roda tidak mengigit tidak ada tumpuan untuk terbalik.

      Bagaimana cara merasakan gripnya?

      Disukai oleh 1 orang

    • Iya, mungkin itu pula alasan jarang ada video slalomnya karimun wagon r, sementara LCGC yang lain ada lumayan banyak.

      Kalau LCGC yang lain juga nungging kedepan kalau belok tajam, sementara kalau karimun sepertinya lebih ke samping.

      Suka

  3. si om yakin banget Ayla stabil?
    saya juga sering nyupir ayla tipe M manual kok om
    naik ayla kalo di tol itu serba salah, pelan goyang, ngebut tambah goyang ehheh

    pelan goyang : saya nyetir ayla di tol tangerang, kec. di 80 kmh, di salip mobil dan truk yang di kanan dan kiri lane saya, mobil serasa kebawa ke kanan / ke kiri. harus pegang stir nya bener2 kenceng

    ngebut tambah goyan : karena jalan pelan, di slaip mobil dan truk malah jadi ngleyang2, akhirnya saya ngebut biar ga di salip, eh baru lari 100 kmh kena side wind udah ngleyang…

    saya serig lihat tulisan si om kalo ayla itu stabil, kok bisa ya? stabil nya gimana nih? bisa di jelaskan?

    Disukai oleh 1 orang

    • Tekanan ban berapa? Bila ingin dipakai kencang, disarankan tekanan ban di setel 40. Sekarang ini tekanan ban Ayla saya buat antara 38 sampai 40 tergantung tempat pengisian angin.

      Dulu saya pernah pakai tekanan angin 32. Pakai jalan 80 memang ngeri. rasanya seperti agar agar. Setelah itu saya pakai tekanan angin 36. Jadi jauh lebih mendingan. Setelah tekanan angin ditambah lagi, maka jadi makin mantap.

      Dulu bawaan saya kijang 88. Soal goyang goyang atau ngleyang kena angin samping atau disalip, jauh jauh lebih stabil ayla. Stabil dalam artian kalau jalan di tikungan panjang, jalan agak bergelombang kecepatan 120km/jam tidak perlu koreksi stir. Bila menyalip atau disalip kendaraan besar tidak perlu koreksi stir. Saat bagian jalan sebelah kanan bergelombang dan sebelah kiri rata bisa jalan santai tanpa banyak goyang tidak seperti kebanyakan MPV yang bisa sampai loncat.

      Jadi, coba dulu tekanan angin 38 atau 40.

      Suka

  4. makanya sejenis avansa /xenia plat body tetutama atapnya.dibuat tipis dan ringan tujuannya antara lain adalah untuk mengurangi beban berat diatas sehingga menurunkan resiko body rolling..sehingga titik berat tetap berada dibawah.

    Disukai oleh 1 orang

  5. jadi inget kakak saya waktu saya masih kecil pasti ikul slalom pakai jet star dan carry bagong pick up, sering menang padahal lawanya kebanyakan sedan, saya pernah lihat video mbak2 ngedrif pakai pick up juga, kalau yg seperti itu PENJELASANYA BAGAIMANA GAN?
    saya juga pernah nikung di ring road selatan yogya di seberang carfix yogya (kasihan bantul) dari arah sewon dengan kecepatan 160kpj pakai wagon r, fine fine aja tuh gan,
    tonton juga top speed wagon r tol bawen ya gan, saya nikung cepat di 170 kpj, nikung tajam di 140 dan 160 kpj gan

    Suka

    • Kalau pakai stabilizer / anti roll bar bisa dicegah. Tapi tentu kalau dipakai di jalan luar kota bisa malah terpental oleh jalan kalau berani kencang lawan mobil yang nggak pakai stabilizer.

      Suka

Bagaimana komentarnya?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.